oleh

Pengurus Baru, MUI Bersih-bersih Pengaruh Ma’ruf Amin Dominan

Kemajuan Rakyat, Jakarta

MUI resmi memiliki ketua baru setelah mereka melakukan rapat pasca Ma’ruf Amin terpilih jadi wakil presiden.  Kepengurusan periode 2020-2025 resmi diumumkan, Rabu (26/11) malam. Sejumlah nama baru muncul, wajah lama hilang. Misalnya, nama Din Syamsuddin dan sejumlah ulama identik dikaitkan dengan Aksi 212 terdepak dari kepengurusan. Nama Din digeser Ma’ruf Amin. Wakil Presiden RI itu kini mengemban jabatan Ketua Dewan Pertimbangan MUI.

Dari susunan kepengurusan yang dibuka ke publik, selain nama Din yang hilang, raib juga nama mantan bendahara Yusuf Muhammad Martak, mantan wasekjen Tengku Zulkarnain, dan mantan sekretaris Wantim Bachtiar Nasir. Keempatnya dikenal sebagai tokoh yang keras mengkritik pemerintah. Din aktif di Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), dan tiga nama terakhir merupakan pentolan Aksi 212.

Berikut ini daftar lengkap Dewan Pimpinan Harian MUI periode 2020-2025:

Ketua Umum: KH. Miftachul Akhyar
Wakil Ketua Umum : Dr. Anwar Abbas
Wakil Ketua Umum : KH. Marsudi Syuhud
Wakil Ketua Umum : Drs. H. Basri Bermanda, MBA.

Ketua: KH. Masduki Bidlowi
Ketua: Dr. Yusnar Yusuf Rangkuti
Ketua: Prof. Noor Achmad
Ketua: KH. Abdullah Jaidi
Ketua: KH. Afifuddin Muhajir
Ketua: KH. Dr. Sodikun
Ketua: Dr. Lukmanul Hakim
Ketua: KH. Sholahuddin Al Aiyubi
Ketua: Prof. Amany Lubis
Ketua: KH. Cholil Nafis
Ketua: Dr. Jeje Zainuddin
Ketua: Dr. Asrorun Niam Sholeh
Ketua: Dr. Sudarnoto Abdul Hakim
Ketua: Prof. Dr. Utang Ranuwijaya

Sekretaris Jenderal : Dr. Amirsyah Tambunan
Wakil Sekretaris Jenderal:

  1. Abdul Manan Ghani
    Habib Hasan Bahar
    Rofiqul Umam Ahmad
    Azrul Tanjung
    Asrori S. Karni
    Ikhsan Abdullah
    Arif Fahrudin
    M. Ziyad
    Isfah Abidal Aziz
    Dr. Badriyah Fayumi
    Drs. H. Pasni Rusli
    Dr. Abdul Ghaffar Rozin
    Prof. Dr. Valina Singka Subekti
    Dr. Fahrur Razi

Bendahara Umum:
Misbahul Ulum

Wakil Bendahara:
KH. Eman Suryaman
Dr. Rahmat Hidayat
Jojo Sutisna
Trisna Ningsih Julianti
Erni Juliana

 

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai dominasi dan kekuatan Ma’ruf Amin di MUI sangat kentara. Membuka dugaan kuat campur tangan pemerintah di payung besar para ulama tersebut.

“Bisa dikatakan ada semacam campur tangan karena Ma’ruf Amin kan wapres. Tentu pemerintah ingin majelis ulama dalam kendali. Sehingga kekritisannya akan hilang dan bisa dikendalikan,” ujar Ujang kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/11).

Seperti diketahui, kurang lebih dua tahun sejak Ma’ruf ikut dalam politik kekuasaan. Akhir 2018, ia mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama petahana Joko Widodo. Saat itu, ia sedang memegang jabatan sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Jabatan di PBNU ia tinggalkan, tapi tidak dengan jabatan di MUI.

Ma’ruf, dalam Munas MUI tahun ini, memimpin Tim Formatur yang terdiri dadi 17 ulama. Tim ini berwenang menentukan siapa saja yang akan berada di pucuk pimpinan MUI, termasuk ketua umum MUI. Ujang berpendapat skenario ini mirip seperti yang terjadi di DPR RI. Kubu pemerintah merangkul sebanyak-banyaknya rekan koalisi dan menyingkirkan yang bernada sumbang.

Ujang mengatakan MUI sangat strategis bagi pemerintah. Sebab ormas ini mengumpulkan berbagai ormas Islam dalam satu wadah. Sementara pemerintah punya masalah dengan kelompok Islam kanan yang diorkestrasi Rizieq Shihab. Dengan menggandeng MUI, kata dia, posisi pemerintah tentu akan jadi lebih aman.

“Kalau MUI tidak dipegang, akan membahayakan. Buktinya dulu zamannya Pak Ma’ruf Amin pas demo Ahok, itu kan MUI menaikkan terus,” ujarnya.

Terpisah, peneliti politik LIPI Siti Zuhro menilai ada upaya penyeragaman suara di MUI. Ia membandingkannya dengan cara pemerintah Orde Baru dalam merangkul kelompok-kelompok masyarakat.

Siti melihat ada upaya kubu pendukung pemerintah untuk menyamakan suara di kalangan masyarakat. Salah satunya di MUI. Siti menyebutnya sebagai state coorporatism.

“Ini harus keluar dari state coorporatism. Semua dikooptasi, semua kekuatan yang ada dikooptasi, itu Orde Baru. Ini Orde Reformasi yang tidak sepatutnya itu,” ujar Siti kepada CNNIndonesia.com, Jumat (27/11).

Ia berpendapat seharusnya kelompok-kelompok yang berbeda pandangan tidak didepak dari kepengurusan MUI. Ia menjelaskan MUI dibentuk untuk mewadahi berbagai ormas Islam.

Meski begitu, Siti menilai upaya menyingikirkan suara sumbang di MUI bukan kemenangan mutlak kubu pendukung pemerintah. Siti mengingatkan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh elite.

“Naif menurut saya memaksakan organisasi lembaga tertentu dengan penyeragaman seperti ini. Demokrasi kita partisipatoris, bukan lagi perwakilan. Masyarakat tidak lagi diwakili oleh sejumlah kalangan,” tutur Siti.[red/cnn]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed